Resensi Buku Finding Audrey (Aku, Audrey)



Penulis : Sophie Kinsella
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 360 hlm

     Finding Audrey (Aku, Audrey) yang ditulis oleh Sophie Kinsella yang bernama asli Madeleine Wickham mengisahkan tentang Audrey Turney, gadis berusia 14 tahun yang menderita gangguan kecemasan sosial, gangguan kecemasan umum, dan episode-episode depresi setelah mengalami perisakan di sekolah oleh teman-teman sekelasnya antara lain oleh Tasha dan Izzy (Isobel Lawton). Akibat dari kejadian perisakan yang dialaminya, Audrey tak bisa lagi melakukan kontak mata dengan siapapun, termasuk keluarganya sendiri. Itu sebabnya Audrey selalu mengenakan kacamata hitam dan tidak lagi pergi ke sekolah. Audrey terpaksa melanjutkan pendidikannya di rumah (home schooling) dan terpaksa harus turun kelas karena sudah tertinggal banyak dalam pelajarannya.
    
     Untuk mengatasi masalahnya, orang tua Audrey membawanya menemui terapis. Lewat penanganan dr. Sarah dan obat yang diresepkannya serta "pekerjaan rumah" yang diberikannya (membuat film dokumenter) seputar kesehariannya di rumah, Audrey mulai mengalami kemajuan dan hampir sembuh. Kesembuhan Audrey juga dipercepat berkat Linus (teman Frank, abang Audrey) yang kemudian menjadi pacarnya. Mulai dari saling mengirim pesan pendek, Audrey perlahan berlatih untuk berkomunikasi dengan orang lain selain keluarganya. Kemajuan Audrey berikutnya ditandai dengan mencoba keluar rumah dan pergi ke kedai kopi dan mencoba berbicara dengan orang asing dengan ditemani Linus. Pada puncaknya, Audrey bahkan bertemu lagi dengan Natalie, sahabatnya yang tak lagi ditemuinya setelah Audrey sakit. Frank yang meretas surel ayahnya dan berpura-pura sebagai ayahnya mengirim surel jawaban atas permintaan orang tua Izzy (salah satu pelaku perisakan terhadap Audrey) yang menginginkan pertemuan sekaligus ingin meminta maaf. Sekalipun ide ini tidak disetujui oleh orang tuanya, Frank menemani Audrey untuk bertemu Izzy dan orang tuanya. Izzy sendiri mengalami depresi klinis setelah perisakan yang dia lakukan dan terpaksa menempuh pendidikan di rumah (home schooling). Pertemuan itu tidak berjalan lancar dan menyebabkan Audrey bertengkar dengan Linus. Audrey yang sangat ingin sembuh diam-diam berhenti meminum obat yang diresepkan dr. Sarah. Akibatnya, setelah pertemuan dengan Izzy, Audrey mengalami insomnia dan akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan pada tengah malam. Keluarganya mengira Audrey hilang dan melapor ke polisi. Saat berjalan-jalan itulah tanpa sengaja Audrey kehilangan kacamatanya dan tak menyadari bahwa dia akhirnya bisa berkontak mata dengan orang lain tanpa bersembunyi di balik kacamata.
    
     Setelah kejadian "hilangnya" Audrey, dia kembali meminum obatnya dan mematuhi bimbingan terapisnya. Audrey ingin segera sembuh karena setelah sekian lama baru menyadari pengorbanan ibunya yang berhenti bekerja untuk menemaninya selama Audrey sakit.

     Sekalipun novel ini berlatar belakang perisakan dan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), novel ini sama sekali tidak "berat" untuk dibaca. Sebaliknya, novel ini cukup lucu. Bagian awal dari novel ini justru menceritakan tentang ibu Audrey yang melempar komputer Frank dari jendela karena jengkel dengan anaknya yang dinilainya kecanduan gim komputer LOC (Land of Conquerors) 3 setelah diam-diam bermain gim tengah malam dari jam dua hingga enam pagi. Bagian lucu lainnya bercerita tentang ayah Audrey yang keliru mengingat umur istrinya dan menutupi kue ulang tahun dengan saus tomat.

     Dari kacamata Audrey yang merespon kejadian-kejadian di keluarganya, kita dibawa untuk menyelami perasaan seorang dengan gangguan jiwa dan stigma keliru yang sering diberikan masyarakat. Misalnya, Ibu Natalie yang sekalipun bukan terapis mengira Audrey mengidap bipolar dan khawatir akan menyerang Natalie. Tentu saja stigma ini keliru. Audrey juga harus mengalami digosipkan mencoba bunuh diri, mencungkil sendiri matanya sehingga selalu mengenakan kacamata hitam, hingga ejekan selebriti yang diberikan tetangganya karena Audrey selalu mengenakan kacamata hitam bahkan di saat hari hujan. Pembaca pun dibuat trenyuh dengan keinginan Audrey untuk cepat sembuh yang membuatnya memutuskan untuk menghentikan minum obat, sekalipun tindakannya keliru. Pembaca juga dibuat ikut senang saat Audrey berhasil mengatasi kecemasannya dan menjadi sukarelawan dengan pergi berbelanja sendirian. Juga saat Audrey berhasil memegang kendali atas penyakitnya dan mengambil tanggung jawab merawat Ibunya yang sempat sakit.

     Saya mengagumi teknik menulis Sophie Kinsella yang tak pernah memberikan detail perisakan yang dialami Audrey dengan mengisahkan tentang keengganan Audrey mengingat lagi kejadian perisakan yang dialaminya yang membuatnya merasa tidak aman. Repetisi frasa 'tidak aman' itu seperti membawa pembaca menyelami bagaimana perasaan seseorang dengan gangguan jiwa dan stigma keliru bahwa ODGJ itu gila. Sebagai sebuah novel, karya ini cukup menghibur sekaligus mengedukasi pembaca tentang ODGJ, isu perisakan, sulitnya menjadi orang tua remaja, dan masalah komunikasi. Tentu, novel ini juga sarat dialog lucu. Berikut contohnya :

"Ibumu sangat mirip..." Ollie mengerjap gugup. "Dia mirip Goddess Warrior Enhanced Level Tujuh." (hlm 10)

Mum tampak makin bingung. Masalahnya, dia tak main game. Jadi agak mustahil menerangkan pada ibuku perbedaan antara LOC 3 dan, katakan saja, Pacman dari 1985. (hlm 20)

     Jika tak sabar untuk membaca novel ini dan belum sempat membelinya, novel ini dapat dibaca di Ipusnas, sebuah aplikasi yang wajib diunduh bagi pembaca yang senang meminjam buku di perpustakaan.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku My Not So Perfect Life (Hidupku yang Tak Sempurna)

Resensi Buku How to Fall in Love (Cara Jatuh Cinta)