Resensi Buku CONFESSIONS OF A SHOPAHOLIC (PENGAKUAN SI GILA BELANJA)
Penulis : Sophie Kinsella
hlm : 472
ISBN : 978-979-22-4342-0
Rebecca Bloomwood bekerja sebagai jurnalis di sebuah majalah keuangan, Successful Saving. Karena kecanduannya berbelanja, Rebecca terlilit hutang yang tidak sedikit, yang terbesar adalah tagihan VISA yang terus dia abaikan. Meski berusaha berhemat dengan berhenti belanja dan membawa bekal makan siang dan memasak sendiri makan malamnya ketimbang pergi ke restoran, tetap saja Rebecca tak bisa menyetop pengeluaran. Rebecca tak bisa menahan godaan berbelanja dan membeli syal cantik yang sedang obral di Denny and George. Dia begitu khawatir syal itu keburu dibeli orang lain saat atasannya menyuruhnya mengambil laporan di Social Security Select Committee. Meski sempat tertahan di kereta, Rebecca akhirnya berhasil mendapatkan syal impiannya.
Rebecca pun mencoba memecahkan masalah keuangannya, mulai dari membeli lotere hingga mencoba melamar pekerjaan baru. Sayangnya, semua itu gagal. Hanya bekerja beberapa jam, Rebecca sudah dipecat dari pekerjaannya sebagai pelayan toko karena mencoba menyembunyikan pakaian yang ingin dibelinya dari pengunjung toko yang ingin membelinya. Wawancara kerjanya juga gagal karena dia hanya mengarang cerita saat memasukkan fasih berbahasa Finlandia dalam curriculum vitae-nya. Saat berusaha kabur dari pewawancaranya yang berkebangsaan Finlandia, Rebecca tanpa sengaja berpapasan dengan Luke Brandon, bos besar Brandon Communicatios, seseorang dengan photographic memory. Rebecca sendiri sudah beberapa kali berpapasan dengan Luke, baik saat menghadiri konferensi pers maupun di restoran. Luke lalu meminta bantuan Rebecca untuk membantunya berbelanja. Rebecca pun menyanggupi dengan gembira. Keduanya lalu memilih koper untuk Luke. Hanya saja, saat melanjutkan makan siang, Rebecca baru tahu bahwa koper itu ternyata bukan untuk Luke, tapi untuk Sacha, pacar Luke. Rebecca yang mulanya mengira Luke naksir dirinya pun kecewa.
Saat bertemu Luke lagi di sebuah konferensi yang diadakan Brandon Communications, Rebecca berusaha menghindari Luke. Saat kabur dari Luke yang mencoba bicara padanya, tanpa sengaja Rebecca justru bertemu dengan Derek Smeath dan asistennya, Erica Parnell dari Endwich Bank padahal Rebecca berusaha menghindari keduanya yang bermaksud menagih pembayaran hutangnya. Keduanya tadinya tak mengenali Rebecca, tapi karena editornya, Philip Page tiba-tiba bergabung dalam pembicaraan mereka, Derek dan Erica pun mengenalinya sebagai salah satu nasabah yang sukar ditagih dan banyak alasan untuk menghindari pembayaran hutang. Derek lalu menegaskan bahwa mereka harus bertemu pada Senin pagi untuk membicarakan pembayaran hutang Rebecca.
Untuk melupakan masalahnya, Rebecca pun setuju untuk berkencan dengan Tarquin, sepupu Suze, sahabat Rebecca; terlebih setelah mengetahui Tarquin Cleath-Stuart berada pada daftar nomor lima belas orang terkaya menurut Harpers & Queen. Sayangnya, tak seperti perkiraannya, Tarquin tidak mengajaknya makan di restoran mewah. Dia hanya mengajak Rebecca makan pizza di Pizza Express seolah untuk mengujinya apakah Rebecca menyukainya atau uangnya. Tarquin mendapat kesan bahwa Rebecca tak ingin berkencan dengannya lagi. Merasa kesempatannya menjadi Nyonya Cleath-Stuart hilang, Rebecca pun menghibur diri dengan berbelanja. Sayangnya saat akan membayar belanjaannya di kasir, Rebecca baru menyadari bahwa semua kartu kreditnya telah dibekukan karena dia tak kunjung membayar hutangnya.
Merasa tak berdaya, Rebecca pun pulang ke rumah orang tuanya untuk bersembunyi dari penagih hutang. Kepada orang tuanya Rebecca berdalih bahwa dirinya tengah dikuntit oleh seorang pria bernama Derek Smeath. Rebecca pun bolos kerja dan menelepon kantor untuk memberitahu bahwa dirinya sakit.
Di rumah orang tuanya, tanpa sengaja Rebecca mendengar tentang Martin dan Janice, tetangganya yang gagal mendapatkan banyak uang dari Flagstaff Life karena diiming-imingi hadiah jam meja untuk memindahkan dana. Rebecca pun menulis artikel untuk Daily World tentang kecurangan yang dilakukan Flagstaff Life. Tak dinyana tulisan Rebecca menarik perhatian publik dan Morning Coffee, sebuah acara televisi berniat mengundang Rebecca untuk tampil dalam acara tersebut. Mulanya dengan gembira Rebecca menyetujui gagasan itu, sampai dia tahu dia harus berdebat dalam siaran langsung dengan Luke Brandon sebagai perwakilan Flagstaff Life. Meski awalnya ketakutan, Rebecca akhirnya berhasil memenangkan perdebatan dan Luke bahkan setuju dengan opini Rebecca bahwa Flagstaff Life telah melakukan penipuan terhadap nasabahnya. Setelah acara selesai, Luke bahkan mengajaknya makan malam dan menawarinya pekerjaan sebagai konsultan paruh waktu. Rebecca tentu saja mengiyakan tawaran itu. Tawaran pekerjaan juga datang dari stasiun tv. Rebecca diminta menggantikan pakar keuangan sebelumnya dalam acara tanya jawab telepon.
Hidup Rebecca sepertinya membaik sampai Derek Smeath hadir di studio sebagai penonton saat Rebecca tengah bekerja dalam acara tanya jawab di televisi. Setelah acara selesai Smeath mencari Rebecca. Tak bisa mengelak lagi, Rebecca pun berjanji untuk hadir pada janji temu berikutnya untuk membahas tagihannya yang belum dilunasi. Sementara itu, acara makan malamnya dengan Luke yang tadinya hanya untuk urusan bisnis berubah menjadi kencan, terlebih setelah tahu Luke sudah putus dari Sacha. Rebecca dan Luke pun kini menjadi sepasang kekasih. Rebecca juga berhasil mengatasi masalah finansialnya berkat gaji yang diterimanya saat tampil di acara Morning Coffee.
Novel pertama dari Serial Shopaholic ini mudah dibaca, ringan, lucu, dan memberikan pesan moral yang tidak menggurui. Dari karakter Rebecca Bloomwood kita dapat belajar untuk bisa mengerem keinginan berbelanja, juga belajar bijaksana dalam menggunakan kartu kredit agar tidak terlilit hutang. karakter Rebecca juga mengajarkan agar mencari jalan keluar dari masalah yang masuk akal seperti menulis artikel bagus untuk Daily World yang akhirnya mengantarnya pada gaji bagus yang membuatnya bisa melunasi hutangnya. Secara keseluruhan, novel ini sangat menghibur.

Komentar
Posting Komentar