Resensi Buku Shopaholic Abroad (Si Gila Belanja Merambah Manhattan)
Penulis : Sophie Kinsella
hlm : 376
ISBN : 978 - 602 - 03 - 1776 - 2
Setelah mengalami terlilit hutang yang akhirnya terlunasi, Rebecca Bloomwood kini hanya berbelanja barang yang memang ia butuhkan. Untuk rencana liburannya bersama Luke, Rebecca membeli sepasang sandal lila. Dia setengah mati menahan keinginan membeli sandal clementine yang ditawarkan kasir. Setelah berhasil menolak, Rebecca mentraktir dirinya sendiri dengan minum cappuccino di kafe, tapi tak lama kemudian, Rebecca sudah kembali untuk membeli sandal clementine yang tadi ditawarkan kasir; padahal dia baru saja bertemu Derek Smeath, manager banknya yang akan pensiun dan memperingatkannya akan penggantinya yang keras yang tidak menyukai nasabah yang berhutang dan susah ditagih.
Saat mendapat pesan dari Luke, kekasih Rebecca untuk membawa sedikit barang saja untuk liburan mereka karena bagasi mobil Luke tak terlalu besar, Rebecca segera uring-uringan, tapi tak lama dia sudah mendapatkan solusinya. Dia akan mengirimkan pakaiannya dengan paket. Sayangnya, rencana sempurna Rebecca ternyata tak sesempurna itu. Saat sampai di hotel tempat dirinya dan Luke menginap, paket pakaiannya belum sampai. Untungnya, Luke harus bekerja di tengah-tengah liburannya sehingga tak mengetahui kejadian krisis pakaian itu. Sementara Luke bekerja, Rebecca berjalan-jalan sendiri.
Sekembalinya dari liburan, Rebecca sudah dihadapkan pada tagihan-tagihan hutang yang sudah melampaui batas pembayaran. Seperti biasa pula, Rebecca mengabaikan surat-surat tagihannya.
Ketika Luke akan pindah ke New York, Luke menawari Rebecca untuk ikut pindah bersamanya. Tentu saja Rebecca menyetujui dengan gembira. Sesampainya di New York, Rebecca tak bisa menghindar dari hobinya berbelanja. New York menjadi surga belanja bagi Rebecca. Di New York, Rebecca juga berkenalan dengan ibu Luke, Elinor Sherman. Rebecca juga menerima tawaran bekerja di televisi. Karena keesokan harinya Rebecca harus melakukan screen test, maka Rebecca pun mempersiapkan diri dengan berbelanja pakaian.
Mulanya Rebecca mengira harinya akan sempurna sampai seseorang menulis artikel negatif tentang dirinya yang dimuat di Daily World. Luke bilang kariernya pun ikut terancam berkat publisitas buruk yang dialami Rebecca. Pertengkaran antara Luke dan Rebecca pun tak terhindari. Rebecca akhirnya memutuskan untuk kembali ke Inggris.
Sekembalinya dari New York, Rebecca mendapati dirinya tidak lagi diinginkan dalam acara televisi Morning Coffee dan penerbit yang akan menerbitkan buku self help-nya memutuskan bahwa buku yang ditulis Rebecca tidak akan berhasil dan meminta uang muka yang sudah diterima Rebecca agar dikembalikan.
Dalam suatu kebetulan, Rebecca mendapati bahwa Alicia, pegawai di Brandon Communications berniat mencuri klien dengan mendirikan perusahaan PR sendiri. Rebecca menceritakannya pada Michael, rekan Luke. Alicia dan beberapa pegawai yang berkomplot akhirnya dipecat. Berkat informasi yang diberikan Rebecca, perusahaan Luke berhasil terselamatkan. Michael lalu menawari Becky pekerjaan sebagai kepala komunikasi di sebuah biro iklan di Amerika. Rebecca pun menerima pekerjaan itu, meski kemudian berubah pikiran.
Untuk melunasi hutang-hutangnya, Rebecca melelang semua barang-barangnya, mulai dari pakaian, tas, topi, hingga mesin cappuccino. Setelah uang yang terkumpul cukup untuk melunasi hutangnya, sisanya akan disumbangkan untuk yayasan amal. Setelah lelang selesai, Rebecca sudah berhasil mengumpulkan uang untuk melunasi seluruh hutangnya. Sebelum berangkat ke Amerika, Rebecca tampil di sebuah acara tv dan mengumumkan bahwa hutangnya kini nol.
Saat Rebecca akan berangkat ke Amerika, Luke menemuinya di bandara. Keduanya mengobrol, dan Luke menuturkan bahwa Alicia juga yang menyebabkan Rebecca mengalami publisitas buruk. Luke lalu memberikan syal kesayangan Rebecca yang dikiranya telah terjual yang ternyata diam-diam dibeli Luke untuk diberikan kembali pada Rebecca. Luke meminta Rebecca untuk tinggal di Inggris, tapi Rebecca menolak dan tetap pergi ke New York. Rebecca lalu bekerja di Barneys sebagai pembelanja pribadi. Luke lalu menemui Rebecca. Setiap bulan dia akan berada di New York sekitar dua minggu, sehingga Luke dan Rebecca akan lebih sering bertemu.
Seperti biasanya, Sophie Kinsella selalu menulis dengan lancar, lucu, dan segar dengan pesan moral yang tidak menggurui. Dari karakter Rebecca Bloomwood yang lagi-lagi mengulangi kesalahan yang sama dengan berbelanja terlalu banyak sehingga terlilit hutang, kita belajar memaklumi bahwa manusia memang tak luput dari kesalahan. Berkat kecerdasan dan kebijaksanaan Rebecca dalam melelang barang-barangnya untuk melunasi hutang, kita seolah diingatkan untuk bertanggungjawab terhadap kesalahan yang kita buat dan bersedia memperbaikinya. Secara keseluruhan, novel ini menyenangkan untuk dibaca.
Jika ingin membaca buku ini dan belum sempat membelinya, buku ini dapat dipinjam di Ipusnas.

Komentar
Posting Komentar