Resensi Buku Shopaholic and Sister (Si Gila Belanja Punya Kakak)
Penulis : Sophie Kinsella
hlm : 400
ISBN : 978-602-03-1751-9
Rebecca dan Luke Brandon masih dalam masa bulan madu. Mereka sudah sepuluh bulan menikah. Rebecca dan Luke kini mempraktikkan yoga di Sri Lanka. Setelah mendapat surat dari Suze, sahabatnya, Rebecca pun ingin pulang ke Inggris. Dia bermaksud memberi kejutan kepada keluarga dan sahabatnya dengan tidak mengabarkan kepulangannya. Kejutan itu juga berlaku bagi Luke. Rebecca ternyata diam-diam memesan meja kayu besar dengan sepuluh kursi yang akan memakan banyak tempat.
Sebelum pulang ke Inggris, Luke harus menghadiri rapat di Milan. Tahu kebiasaan berbelanja istrinya, Luke pun menyimpankan dompet Rebecca agar dia tidak kalap berbelanja. Usaha Luke tidak terlalu berhasil karena Rebecca menyimpan kartu darurat yang tidak diketahui Luke. Setelah membelikan sabuk untuk Luke, Rebecca juga membeli tas Angel seharga dua ribu euro untuk dirinya. Tentu saja perihal membeli tas Angel itu tidak diketahui Luke.
Kembali ke Inggris tanpa pemberitahuan sebelumnya, Rebecca mendapati orang tuanya tidak menampakkan kegembiraan. Keduanya malah terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Untungnya saat bertemu Suze, sahabat Rebecca, Suze terlihat gembira. Suze kini punya tiga anak. Anak keduanya kembar, laki-laki dan perempuan.
Kegembiraan Rebecca tak lama saat dia mengetahui tentang Lulu, sahabat baru Suze. Rebecca tak bisa menghilangkan perasaan cemburu melihat sahabat terbaiknya memiliki sahabat lain selain dirinya.
Saat belanjaan Rebecca yang dibelinya saat bulan madu tiba yang banyaknya sebanyak dua truk, Luke pun syok sekaligus marah. Di antara barang yang dibeli Rebecca ada jerapah-jerapah kayu, guci-guci tiruan dari dinasti Ming, dhurrie-permadani dari India, dan gamelan dari Indonesia.
Keasyikan berbelanja, Rebecca lupa bahwa dia ternyata memesan dua set meja makan yang masing-masing memiliki sepuluh kursi dan lima meja kopi. Untuk mengatasi masalahnya, Rebecca menjual barang-barangnya di eBay. Sayang sekali justru timbul masalah baru saat Rebecca tanpa sengaja menjual sepuluh jam dari Tiffany yang merupakan kado perusahaan yang dibeli Luke untuk Arcodas Group.
Saat orang tua Rebecca berkunjung ke apartemennya, Rebecca dikagetkan oleh berita yang mereka bawa. Rebecca ternyata punya kakak perempuan tiri, Jessica Bertram. Hal ini juga baru diketahui orang tuanya baru-baru ini saja. Tak seperti Rebecca, Jessica ternyata benci belanja. Tak seperti bayangan Rebecca, melewatkan waktu bersama Jessica ternyata tak semenyenangkan yang ia bayangkan. Pada puncaknya, Rebecca pun bertengkar dengan Jessica. Jessica menuduh Rebecca kecanduan belanja, sementara Rebecca menuduh Jessica sok dan pelit.
Rebecca tanpa sengaja berjanji pada Nathan Temple, seorang yang pernah terlibat kriminal bahwa Brandon Communications bersedia menjadi PR dalam peluncuran hotel milik Nathan. Begitu Rebecca tahu dari Luke dan Gary, rekan kerja Luke bahwa reputasi Nathan yang pernah terkait kriminalitas, Rebecca pun berbohong pada Nathan bahwa Luke tengah sakit, karena itu tak bisa menangani permintaan Nathan untuk menjadi PR bagi bisnisnya. Saat Nathan menemui Luke di kantornya, Rebecca tak bisa menghindar lagi. Setelah mengaku pada Luke, Rebecca dengan sedih meminta maaf pada suaminya. Luke terpaksa menangani peluncuran hotel Nathan sebab Rebecca telanjur berjanji pada pria itu gara-gara tas Angel.
Bertengkar dengan Luke, orang tuanya sedang bepergian, dan Suze sibuk dengan Lulu, Rebecca pun memutuskan berbaikan dengan kakaknya. Usai berkemas, Rebecca pun pergi ke Cumbria untuk menemui Jessica. Sayangnya sesampainya di Cumbria, Jessica justru mengusir Rebecca. Saat Jessica mencarinya karena khawatir Rebecca tak punya tempat bermalam, Jessica sedang mendengar Rebecca menceritakan apa saja yang dia katakan pada kakaknya saat sedang bertengkar. Jessica yang mengira Rebecca tengah menjelekkannya kepada tetangganya lalu pergi dengan marah.
Rebecca masih ingin berbaikan dengan Jessica, jadi saat tahu Jessica tengah mendaki gunung, Rebecca pun mengikutinya tanpa peralatan memadai. Separuh perjalanan, Rebecca tak bisa lagi melanjutkan berjalan karena kakinya lecet dan lututnya berdarah. Selain itu hujan juga mulai turun. Saat akhirnya bertemu Jessica, Rebecca terpeleset, jatuh, kepalanya terbentur, lalu pingsan. Jessica lalu merawat Rebecca di dalam tenda yang ia dirikan. Sambil menunggu badai berlalu, keduanya lalu berbaikan. Sayang sekali badai menerbangkan tenda mereka. Keduanya pun berjalan untuk mencari tempat berlindung dari angin. Di luar dugaan, Suze ternyata menyusul Rebecca ke gunung, melacaknya dari sinyal ponselnya. Tarquin dan teman RAF-nya mengemudikan helikopter untuk mengevakuasi Rebecca. Meski kakinya patah, Rebecca merasa cukup senang karena dia sudah berbaikan dengan Luke lewat ponsel. Luke bilang Nathan ternyata tak seburuk yang dia duga.
Rebecca kini akrab dengan Jessica. Dia ikut-ikutan menjadi aktivis lingkungan yang memprotes pendirian pusat perbelanjaan. Sayangnya Rebecca baru tahu kemudian perusahaan yang dia protes ternyata adalah klien terpenting Luke. Saat Luke datang untuk menengahi, Rebecca baru tahu bahwa klien Luke tidak berniat membuat pusat perbelanjaan. Tim aktivis Rebecca ternyata tidak melakukan riset dengan benar.
Novel ini lucu dan menegangkan. Pembaca dibawa ikut jengkel saat Rebecca berbelanja demikian banyak, ikut mengkhawatirkan keuangannya, kontaknya dengan Nathan Temple, dan cideranya saat terjatuh di gunung. Pembaca juga dibawa ikut tersentuh saat Suze mencari Rebecca sampai ke gunung. Sekali lagi Kinsella memberikan pesan moral yang manis seputar persahabatan dan keluarga.
Novel ini bisa dipinjam di Ipusnas.

Komentar
Posting Komentar