Resensi Buku The Year I Met You (Tahun Itu Kita Bertemu)
Penulis : Cecelia Ahern
hlm : 456
ISBN : 978-602-06-1729-9
The Year I Met You (Tahun Itu Kita Bertemu) mengisahkan tentang Jasmine Butler, perempuan berusia 33 tahun yang tinggal sendirian di Sutton, Dublin Utara. Setelah dipecat dari pekerjaannya, Jasmine seringkali merasa dirinya tidak berguna. Itu membuatnya sering terjaga hingga tengah malam dan mengamati tetangganya yang menyebalkan dan pemabuk, Matt Marshall yang tinggal di seberang rumahnya.
Matt, sepuluh tahun lebih tua dari Jasmine bekerja sebagai penyiar radio. Matt tengah diskors dari pekerjaannya setelah melakukan kesalahan saat siaran dalam keadaan mabuk. Akibat kebiasaannya bermabuk-mabukan, Matt bukan saja kehilangan pekerjaannya, tapi Matt juga ditinggalkan oleh Amy, istrinya dan ketiga anaknya. Jasmine awalnya membenci Matt karena siarannya tentang down syndrome yang menyinggung perasaannya sebab kakak perempuan Jasmine, Heather adalah seorang penderita down syndrome.
Untuk menyibukkan dirinya, Jasmine memilih berkebun. Anak Matt, Fionn yang berusia 15 tahun membantu Jasmine memperindah tamannya. Tak seperti hubungannya dengan Fionn yang baik, Jasmine justru sering bertengkar dengan Matt sampai harus dilerai oleh Vincent Jameson, tetangga mereka yang pensiunan dokter.
Setelah marah oleh sindiran Jasmine, Matt akhirnya sadar dari bermabuk-mabukan. Dia mulai berusaha menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya. Hubungan Matt dan Jasmine yang tadinya penuh pertengkaran perlahan membaik dan berubah menjadi persahabatan. Keadaan semakin membaik bagi Matt dan Jasmine. Matt akhirnya mendapat pekerjaan baru di radio. Amy dan anak-anaknya pun kembali ke rumah. Sementara itu, Jasmine menjalin hubungan asmara dengan Monday O'Hara, headhunter yang menawarinya pekerjaan. Judul The Year I Met You mengacu pada hubungan persahabatan Jasmine dengan Matt.
Sejak awal, Cecelia Ahern sudah mengingatkan bahwa hidup itu fana, seperti yang digambarkannya di hlm 18, Kita menuai apa yang kita tabur, bahkan dalam kematian. Maka aku pun menabur. Cepat atau lambat, kita semua akan meninggal. Dimulai dari bagian pembuka novel ini di mana Jasmine kecil yang baru berusia lima tahun harus menghadapi kematian kakeknya. Dari sepupu angkatnya, Kevin, Jasmine kecil baru tahu bahwa kelak diapun akan meninggal. Kematian lain yang digambarkan dalam buku ini adalah kematian Rebecca dan anaknya, Lily yang tewas dalam kecelakaan mobil saat Rebecca akan mengunjungi orang tuanya. Juga kematian tetangganya, Mrs Malone setelah beberapa kali terserang stroke.
Selain kematian, Ahern juga mengangkat isu down syndrome lewat karakter Heather. Ahern juga mengangkat respon orang seputar down syndrome, mulai dari yang naif sampai yang kejam. Melalui karakter Jasmine, Ahern juga mengisahkan bagaimana respon keluarga terhadap anggota keluarga mereka yang menderita down syndrome. Jasmine selalu berusaha melindungi Heather yang setahun lebih tua darinya. Jasmine bahkan begitu menguatirkan Heather yang berkencan dengan Jonathan, sesama penderita down syndrome sampai Jasmine membuntuti keduanya dan tidak datang pada sesi wawancara kerja yang sudah diatur Monday untuknya. Isu lain yang ada dalam novel ini adalah hubungan keluarga yang kurang baik seperti hubungan Matt dengan Fionn, bahkan hubungan Jasmine dengan ayahnya. Membaca novel ini kita mendapat paket lengkap tentang kehidupan, khususnya mengenai persahabatan dan keluarga. Dengan kepiawaiannya bercerita, Ahern menuturkan kisahnya dengan merekam kejadian sehari-hari seperti berkebun, mengobrol dengan tetangga, bahkan melayat.
Jika sudah tak sabar ingin membaca novel ini dan belum sempat membelinya, novel ini dapat dipinjam di Ipusnas.

Komentar
Posting Komentar