Resensi Buku Christmas Shopaholic
Penulis : Sophie Kinsella
hlm : 365
ISBN : 9781787631960
Rebecca kini berbelanja secara virtual di BargainFamily, berbeda dengan semasa lajangnya. Rebecca, Luke, dan Minnie kini tinggal tak jauh dari Suze di sebuah rumah pedesaan yang mereka sewa. Rebecca bekerja untuk Suze di toko cendera mata di Letherby Hall dan tanpa sengaja menemukan kata sprygge dan membuatnya populer.
Saat makan bersama, Rebecca dikejutkan oleh berita yang dibawa orang tuanya. Keduanya akan pindah ke apartemen di Shoreditch, sementara rumah mereka akan ditinggali Jessica dan Tom untuk sementara. Mereka juga mengharapkan untuk perayaan Natal kali ini, Rebecca yang akan menjadi tuan rumah.
Rebecca tadinya ingin membelikan hadiah Natal berupa mantel untuk Luke, tapi ternyata Luke sudah membeli sendiri lebih dulu. Luke bilang dia hanya ingin after shave untuk hadiah Natalnya. Ingin memberikan sesuatu yang berbeda, tapi tak bisa memutuskan yang mana, Rebecca akhirnya membeli berbagai botol sampel after shave untuk Luke yang disimpannya sampai Natal tiba. Rebecca berniat mengujicobanya pada Luke saat Luke tidur sebelum memutuskan yang mana yang terbaik untuk dibeli. Untuk menandai merknya, Rebecca memakai spidol yang ternyata permanen. Saat terbangun, Luke menahan marah. Apalagi Rebecca tanpa sengaja menyemprot mata Luke.
Di tempat kerjanya, Rebecca bertemu lagi dengan eksnya, Craig Curton, seorang musisi. Craig ternyata menyewa properti dari Tarquin yang tak jauh dari tempat tinggal Rebecca. Saat bertemu lagi dengan Rebecca, Craig bilang bahwa Rebecca tidak lagi edgy. Komentar itu membuat Rebecca terus kepikiran. Craig dan kekasihnya, Nadine ternyata sengaja pindah berdekatan dengan rumah Luke dan Rebecca karena Nadine mengincar Luke untuk mendanai bisnisnya, sementara Craig bangkrut. Luke menolak proposal bisnis Nadine yang penuh kelemahan.
Saat berbelanja untuk Natal, mata Rebecca tanpa sengaja tertumbuk pada sebuah koper dengan inisial nama Luke. Saat ingin membelinya, ternyata koper itu tidak dijual karena koper itu adalah hadiah undian untuk anggota klub biliar dan musik yang anggotanya hanya laki-laki. Karena mengincar koper untuk hadiah Natal Luke, Rebecca berniat memprotes kebijakan klub tersebut agar mengijinkan perempuan juga bisa menjadi anggota. Rebecca juga berkenalan dengan seorang pria bernama Edwin yang juga setuju agar kebijakan klubnya diubah. Untuk mengubah kebijakan klub, Rebecca harus berpidato tentang biliar. Rebecca berhasil membawakan pidatonya dengan baik dan diterima sebagai anggota. Meski sudah bersusah payah, Rebecca gagal mendapatkan koper untuk hadiah Natal Luke.
Untuk persiapan Natalnya Rebecca sudah membeli lima pohon Natal. Barang-barang yang dibelinya melenceng jauh dari daftar barang yang semula ingin ia beli. Lebih parah lagi, Rebecca tanpa sengaja membeli 30 pon salmon asap yang diselimutinya di halaman karena dia tidak punya lemari pendingin yang besar. Belum lagi dia harus mendamaikan ibunya dan Janice yang berselisih sejak orang tuanya pindah ke Shoreditch. Rebecca berniat membuat pesta membuat roti jahe supaya ibunya dan Janice bisa berbaikan. Rebecca juga mengundang Steph yang akan diceraikan suaminya demi wanita lain yang lebih muda dan anaknya, Harvey ke pesta untuk menghiburnya. Sayangnya pada saat-saat terakhir, Jessica, orang tua Rebecca, Janice, dan Suze batal datang ke pestanya. Rebecca pun kecewa dan sedih. Luke pun marah mengetahui semua orang membatalkan kehadiran mereka dengan tiba-tiba.
Luke membawa Rebecca dan Minnie untuk menemui Jessica dan meminta penjelasan mengapa tiba-tiba semua orang membatalkan datang ke pesta Natal yang akan diselenggarakan Rebecca. Jessica menjelaskan bahwa ini gara-gara surel yang dikirim Luke. Luke pun bingung karena merasa tidak pernah mengirim surel. Saat memeriksa surel yang dimaksud, Rebecca langsung tahu bahwa Nadine yang berusaha menyabotase pesta Natalnya karena dendam proposal bisnisnya ditolak Luke.
Rebecca mendapati semuanya baik-baik saja. Tom dan Jessica ternyata tidak bertengkar seperti dugaan Rebecca karena Tom yang menyusul belakangan ke Inggris dari Chile. Tom dan Jessica ternyata berhasil mengadopsi seorang anak tuli bernama Santiago. Selain itu, pada saat-saat terakhir, Rebecca baru mengetahui bahwa Minnie yang cadel menginginkan hamster untuk hadiah Natalnya, bukan hamper (bingkisan) piknik. Rebecca pun lekas berburu hamster sebelum toko tutup.
Tadinya Rebecca gembira saat menemukan toko yang hampir tutup dan berhasil membeli seekor hamster, tapi kemudian dia terkunci di dalam toko tanpa sengaja saat hamster yang dibelinya lepas dan harus ditangkap dulu. Saat mencari jalan keluar, tubuh Rebecca terjepit, tapi untungnya ponselnya mendapat sinyal dan dia berhasil mengirim pesan ke Luke. Keluarga Rebecca dan Suze lalu berbondong-bondong menjemput.
Setelah semua kesibukan yang ada, Rebecca akhirnya mendapatkan pesta Natal yang hangat. Tak dinyana dia juga dikejutkan dengan keajaiban Natal. Dia mendapatkan koper yang diincarnya untuk hadiah Natal Luke dikirimkan untuknya.
Novel ini lucu dan segar. Pembaca dibuat ikut mengkhawatirkan Rebecca dengan semua permasalahannya, terutama masalah belanjanya. Khas Rebecca, meski dia mengalami aneka masalah, dia selalu bisa menemukan jalan keluar dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Satu hal yang mengherankan buat saya adalah karakter Elinor (ibu Luke) yang diceritakan sudah berbaikan dengan Luke di buku sebelumnya tidak ikut disertakan di buku ini. Elinor sama sekali tidak disebut dan tidak ikut hadir dalam pesta Natal yang diselenggarakan Rebecca. Secara keseluruhan, pesan moral dalam novel ini mengutamakan keluarga dan persahabatan melampaui perayaan Natal yang di luaran.

Komentar
Posting Komentar