Resensi Film The Little Mermaid

 

Film yang ditulis naskahnya oleh David Magee dan disutradarai oleh Rob Marshall ini bercerita tentang Ariel (Halle Bailey), seorang Putri duyung yang penasaran dengan dunia manusia. Meski sudah berulangkali telah diperingkatkan oleh ayahnya, Raja Triton (Javier Bardem) dan si kepiting bernama Sebastian, tapi Ariel berulang kali melanggar pantangan. Sementara itu di permukaan berlayar Pangeran Eric (Jonah Hauer-King) dan krunya. Mereka tengah merayakan hari ulang tahun sang pangeran ketika tiba-tiba muncul badai yang membuat kapal karam. Pangeran Eric yang menolong anjingnya terlambat naik ke sekoci dan jatuh terhempas ke laut. Ariel yang sedari tadi mengamati mereka pun berinisiatif untuk menyelamatkan pangeran Eric. Dengan suara siren nyanyiannya, Ariel berhasil menyadarkan Pangeran Eric dan membawanya ke pinggir pantai. Saat kru kapal berhamburan mencari Pangeran Eric, Ariel pun kembali ke dalam laut. 

     Mengamati Ariel, Ursula (Melissa McCarthy), si penyihir jahat pun berniat memperdayanya. Menginginkan kekuasaan di laut yang dimiliki oleh saudaranya, Raja Triton, Ursula menawarkan untuk mengubah Ariel menjadi manusia selama tiga hari, tapi dia harus menyerahkan suaranya. Dalam tiga hari Ariel harus mencium Pangeran Eric, cinta sejatinya supaya Ariel selamanya bisa menjadi manusia. Jika gagal, dalam tiga hari Ariel akan kembali menjadi putri duyung dan akan menjadi milik Ursula. Ariel termakan muslihat Ursula dan setuju menjadi manusia. Dia bahkan di bawah sihir Ursula sehingga tidak ingat harus berciuman dengan cinta sejatinya dalam tiga hari. 

     Menjadi manusia, Ariel pun segera berenang ke permukaan dan tanpa sengaja terjaring oleh nelayan. Mengira Ariel adalah korban kapal karam dan menjadi bisu karena trauma, si nelayan pun menolong Ariel dan membawanya ke istana. Di istana Ariel pun gembira bisa bertemu dengan Pangeran Eric. Sayangnya sang pangeran tak mengenali Ariel sebagai penolongnya karena suara Ariel sudah diambil Ursula, sementara Pangeran Eric mengenali penolongnya dari suara nyanyiannya. 

     Ursula yang khawatir Ariel akan mematahkan muslihatnya dan berciuman dengan Pangeran Eric lalu menyihir sang pangeran dan dia sendiri menyamar sebagai manusia. Pangeran Eric yang mengira Ursula adalah penolongnya karena memiliki suara Ariel berniat menikahinya. Untungnya rencana itu berhasil digagalkan Ariel dan teman-temannya. Ariel berhasil mendapatkan kembali suaranya. Sayangnya dia terlambat dan berubah kembali menjadi putri duyung dan menggegerkan seisi istana. Ariel pun ditawan oleh Ursula dan balik ke lautan. 

     Raja Triton yang tak ingin Ariel terluka di tangan Ursula mengorbankan nyawanya untuk putrinya dan menyerahkan kekuasaan ke tangan Ursula. Begitu mendapat kekuasaan, Ursula berniat membunuh Pangeran Eric yang mencoba menolong Ariel. Eric dan Ariel pun bahu-membahu melawan Ursula. Usaha mereka berhasil saat Raja Triton hidup kembali. Ursula akhirnya dikalahkan. 

     Menyadari tak bisa bersatu dengan Pangeran Eric, Ariel pun bersedih. Tak ingin putrinya berduka berlama-lama, Raja Triton pun mengubah Ariel menjadi manusia sehingga dia dapat menikahi Pangeran Eric. Kesalahpahaman antara manusia dan makhluk lautan pun berakhir dengan pernikahan Pangeran Eric dan Ariel.

     Khas film Disney, film ini juga berakhir bahagia. Ending yang memang dinantikan oleh para penonton; meski begitu, film ini menarik untuk ditonton karena sarat lagu-lagu apik yang dinyanyikan karakter-karakternya, juga penuh adegan-adegan menegangkan; misalnya saat Ariel dan si ikan bernama Flounder berusaha menghindar dari hiu jahat yang ingin menyerang mereka. Secara keseluruhan, film ini sangat menghibur. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Finding Audrey (Aku, Audrey)

Resensi Buku My Not So Perfect Life (Hidupku yang Tak Sempurna)

Resensi Buku How to Fall in Love (Cara Jatuh Cinta)